• Subscribe
  • Email
    • Gmail
    • Yahoo
  • lorem ipsum

Narasi Pedesaan Jangan Ditenggelamkan

Administrator  • 2024-05-06 10:34:05

Narasi Pedesaan Jangan Ditenggelamkan Sumber: PUPR

Sebagai salah satu strategi pembangunan ekonomi Indonesia, hilirisasi menjadi buzzword beberapa tahun terakhir ini. Dengan hilirisasi, kita berharap produk yang dijual memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Jika semula Indonesia hanya menjual komoditas dalam bentuk bahan mentah, kegiatan hilirisasi diharapkan mampu menghasilkan produk yang siap dijual kepada konsumen akhir. Keberhasilan hilirisasi tidak hanya memberikan nilai tambah sebuah produk, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dan menciptakan kesempatan kerja.

Tidak hanya dalam skala nasional, hilirisasi juga terjadi di perdesaan. Hal tersebut saya temukan, antara lain, dari cerita Pak Seno, petani dari Wonogiri, Jawa Tengah, yang saya kenal di sebuah platform media sosial beberapa tahun lalu.

Lewat akun Trigona Seno, Pak Seno rajin mengunggah produk-produk pertanian yang dihasilkan oleh kelompok tani, pemuda karang taruna, dan ibu-ibu PKK di desa. Tiga minggu yang lalu, saya beruntung bisa bertemu dan berbincang dengan Pak Seno.

Dari Pak Seno, saya tahu bahwa desanya tidak lagi menjual hasil panen kunyit hitam dalam bentuk rimpang dan kacang sacha inchi (tanaman yang buahnya kaya akan omega 3) dalam bentuk komoditas bahan mentah. Namun, desa Pak Seno melanjutkan proses produksinya menjadi bubuk kunyit hitam dan minyak sacha inchi.

Pengolahan berlangsung di desa, kemudian produk dikemas dan siap dikirim kepada konsumen. Bubuk kunyit hitam dalam bentuk kapsul dan minyak sacha inchi dalam kemasan menjadi suplemen untuk menjaga kesehatan.

Contoh hilirisasi di perdesaan juga dapat dilihat dari hasil kunjungan ke beberapa desa wisata. Dalam kunjungan ke desa penghasil kopi, warga desa menawarkan kopi kemasan siap seduh sebagai salah satu produk oleh-oleh dari desanya.

Di desa yang memiliki potensi penghasil daun kelor, mereka membuat teh daun kelor dalam kemasan. Beberapa desa saya temukan juga menjadi penghasil produk akhir siap konsumsi, seperti gula aren semut, beras jagung, dan mi berbahan dasar singkong.

Hilirisasi di perdesaan biasanya dipelopori oleh tokoh desa yang memiliki semangat wirausaha. Mereka ini memiliki karakteristik: mampu berpikir di luar kebiasaan, pandai melihat peluang, berani mengambil risiko, dan mahir menjalin hubungan dengan para pihak yang berkaitan dengan produk yang dihasilkan.

Pak Seno yang saya ceritakan di awal tulisan ini mengatakan, tidak mudah mengajak kawan-kawannya, para petani di desanya, memulai hal baru, misalnya menanam dan mengolah sacha inchi. Mereka bersedia melakukan jika sudah melihat bukti bahwa hal baru yang ditawarkan memberikan hasil lebih baik.

Dalam kondisi seperti ini, diperlukan kepastian pasar bagi produk baru yang dihasilkan. Wirausaha yang lincah akan mampu menemukan peluang pasar yang berkelanjutan. Dalam kasus minyak sacha inchi, misalnya, Pak Seno dan kawan-kawan petaninya mendapat peluang pasar baru, yaitu pabrik sabun kecantikan dan tak ketinggalan, pabrik pakan ternak organik.

Keberadaan internet sangat membantu upaya wirausaha dalam memulai hilirisasi di desa. Internet menjadi tempat menggali informasi akan pasar yang potensial sekaligus sebagai sumber pengetahuan tentang produksi dan pengemasan. Tak mengherankan jika hasil produksi mereka menyerupai produk-produk keluaran pabrik yang sudah mapan.

Melihat manfaat hilirisasi di desa dan kondisi yang mendorongnya, pemerintah dapat berperan paling tidak dalam tiga hal. Pertama, memastikan kemudahan akses internet di wilayah perdesaan.

Kedua, memberi sinyal tentang adanya perlindungan bagi para pelopor hilirisasi. Tak jarang hasil produksi hilirisasi dianggap sebagai pesaing barang produksi perusahaan besar. Oleh karena itu, pemerintah perlu mendorong persaingan yang adil di antara kedua belah pihak.

Ketiga, pemerintah wajib memastikan hilirisasi di perdesaan tetap searah dengan tujuan kelestarian lingkungan alih-alih menimbulkan masalah lingkungan.

Hilirisasi di Indonesia tidak hanya terjadi di sektor nikel dan sawit serta dalam skala nasional. Proses mengubah komoditas mentah menjadi barang siap dikonsumsi juga terjadi di desa-desa di Indonesia.

Produk-produk konsumsi, seperti madu, gula aren semut, kopi, dan bahan pangan olahan lain, adalah beberapa contoh hasil hilirisasi di perdesaan. Melalui strategi hilirisasi, nilai tambah beberapa produk akan dinikmati warga desa.

Keberadaan wirausaha dengan akses internet menambah derap laju hilirisasi di wilayah perdesaan. Tambahan pengetahuan serta akses terhadap pasar dan konsumen menjadi lebih mudah didapat dengan adanya internet.

Ketika banyak produk akhir bisa didapat langsung dari produsen di desa, berbagai hal diharapkan dapat terjadi. Desa menjadi lebih produktif, perekonomian tumbuh, lapangan kerja bertambah, pendapatan penduduk meningkat, dan kemiskinan pelan-pelan akan terkikis.

Satu hal harus dipastikan: hilirisasi di perdesaan tidak mengorbankan kelestarian lingkungan.

View reactions (729)
Add Comment
2 Comments
  • @russel


    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Ea, iusto, maxime, ullam autem a voluptate rem quos repudiandae.
  • @carlf


    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Ea, iusto, maxime, ullam autem a voluptate rem quos repudiandae.