• Subscribe
  • Email
    • Gmail
    • Yahoo
  • lorem ipsum

Huawei Mimpi Buruk Digjaya Teknologi Amerika

Administrator  • 2024-05-07 00:20:15

Huawei Mimpi Buruk Digjaya Teknologi Amerika Sumber: Washinton Post

Smartphone Apple (Iphone) boleh saja gemerlap dengan kelas kemewahan yang selalu menyita perhatian. Tetapi mungkin dalam hitungan waktu mendatang gemerlap itu akan ditandingi oleh lawan sepadan yakni Huawei. Pabrikan Cina ini dipandang sebelah mata, kasus perkembangannya wajib menjadi perhatian bahkan pembelajaran di masa yang akan datang.

Huawei meluncurkan Mate 60 Pro, telepon cerdas terbaru. Saingannya yang paling setara hanya iPhone buatan Apple. Tak pelak lagi pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Joe Biden mencanangkan pelacakan. AS lupa bahwa selama 200 tahun mereka juga dicap oleh Inggris sebagai negara pembajak hak cipta.

Seperti berkacamata kuda dan lupa sejarah negaranya, kini AS mencari-cari latar belakang bagaimana Huawei tetap bisa melaju, Mengapa semua ini bisa terjadi di tengah hambatan perdagangan cip oleh AS yang juga melibatkan Korea Selatan, Eropa, dan Jepang.

”Tidak mungkin Huawei melakukan itu jika bukan karena mencuri teknologi AS,” demikian Mike Gallagher, anggota DPR AS dari Republikan yang juga Ketua Komite Khusus Urusan Partai Komunis China (CCP) seperti dikutip Reuters, 6 September 2023. Ia mengomentari peluncuran Huawei Mate 60 Pro pada 30 Agustus.

Peluncuran ini disebut mengejutkan karena telepon seluler itu mendadak muncul setelah produk Huawei melempem sejak terkena sanksi oleh AS pada 2019. Pemunculannya lebih mengangetkan lagi karena memakai cip ukuran 7 nanometer (nm), sebuah keunggulan AS dalam ukuran cip walau AS sudah mampu menciptakan cip ukuran 3 nanometer.

Dalam produk terbarunya Huawei memakai jaringan 5G buatan China yang berguna untuk kekuatan jaringan terkait sinyal. Telepon terbaru Huawei itu juga disebutkan andal berkat kamera dengan kemampuan lensa telemakro dan gim.

Berjuang tiga tahun

Huawei kini lebih membuat terperangah karena berpotensi menggerogoti pasar korporasi raksasa teknologi informasi asal AS. Cip Kirin 9000s ukuran 7 nm yang dipakai Huawei adalah buatan Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan China. Pemakaian cip ini akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas telepon seluler, menghemat baterai serta mencegah pemanasan gawai.

”Cip merek Kirin 9000s ini merupakan ancaman bagi Qualcom yang mendominasi pasar global untuk produk serupa,” kata analis Ming-Chi Kuo. Selama ini, Huawei adalah salah satu pelanggan utama Qualcom, korporasi AS. Hal lain, Mate 60 Pro juga menggunakan memori cip LPDDR5 mirip buatan SK Hynix, perusahaan Korea Selatan yang masuk dalam pelarangan AS agar tidak mengirim produk ke China.

Harian China Daily, 11 September 2023, menuliskan, cip buatan China itu diproduksi tanpa memakai alat litografi EUV (extreme-ultraviolet), metode litografi yang selama ini menjadi keunggulan utama ASML Holding. Perusahaan Belanda ini juga masuk dalam daftar AS agar tidak mengirim produk ke China. Huawei memakai electronic design automation (EDA) untuk produksi cip lokal.

Huawei berhasil pula melepaskan diri dari produk Oracle dalam sistemnya dengan memakai Meta-ERP. Sistem ERP bisa mengintegrasikan kegiatan operasional keuangan, jaringan produksi perusahaan, dan hal terkait. Oracle, korporasi AS, bisa kehilangan pasar di China dengan kemunculan sistem serupa oleh Huawei.

Tentu sistem operasi Huawei juga memakai HarmonyOS, karya sendiri. Sistem ini bisa menampung hampir semua aplikasi android. Ren Zhengfei, pendiri Huawei, mengatakan, sebanyak 13.000 komponen yang sebelumnya dipakai Huawei telah terkena efek sanksi AS. Hal itu membuat Huawei berjuang tiga tahun agar bisa mandiri (China Daily, 20 Juni 2023).

The Global Times, 24 Mei 2023, menuliskan, Huawei sukses menghindari serentetan hantaman AS berkat kolaborasi dengan 88 perusahaan afiliasi yang tersebar di 75 negara. Semua perusahaan afilisasi Huawei tersebut berperan membuat Huawei beralih ke pemakaian sistem sendiri, termasuk pengembangan MetaERP, yang mencakup sektor bisnis termasuk komputasi awan, instrumen, serta teknologi informasi dan komunikasi.

Kemajuan Huawei berefek kuat secara positif pada kepercayaan diri China dan akan memacu perusahaan sejenis melakukan hal serupa. Hal ini sekaligus mempertanyakan efektivitas pelarangan AS untuk pengiriman cip ke China. ”Strategi AS yang mengucilkan China akan berdampak pada penurunan drastis pendapatan korporasi teknologi informasi AS dari pasar China,” kata George Koo, pensiunan penasihat bisnis internasional di Silicon Valley.

Korban kemajuan teknologi China berikutnya bukan hanya pemasaran iPhone di China. Nvidia, Qualcomm, Applied Materials, dan Lam Research diperkirakan akan kewalahan di pasar China. ”Perusahaan-perusahaan ini akan mengalami penurunan keuntungan komparatif di pasar China. Dalam waktu dekat mereka tidak akan diizinkan memasuki pasar China. Dalam jangka panjang, China tidak perlu membeli lagi produk merek AS,” kata Koo.

Pencurian teknologi

Bagaimana Huawei bisa mengembangkan teknologinya, ini masih misteri. Namun, sukses Huawei terkini mengingatkan sejarah pencurian teknologi oleh AS.

Sebagaimana Inggris 200 tahun lalu sia-sia menghambat pencaplokan teknologi oleh AS, hal serupa kini dialami AS terhadap China. Peraturan yang pernah dicanangkan Inggris untuk mencegah aliran teknologi ke AS mengalami kegagalan total. Hal serupa yang dilakukan AS terhadap China pun gagal.

Jika AS kini menuduh China mencaplok hak cipta AS, hal serupa sudah duluan dilakukan Inggris terhadap AS. Ketika AS menuduh Pemerintah China sangat gencar mendorong pembajakan hak kekayaan intelektual AS, hal serupa juga dilakukan AS.

Menurut sejarawan Doron Ben-Atar, dalam bukunya Trade Secrets, “Amerika Serikat menjadi pemimpin industri dunia dengan mengambil alih inovasi mekanik dan ilmiah dari Eropa secara tidak sah.” Hal ini dilakukan karena AS ingin melepaskan diri dari sektor pertanian dan melaju lewat industrialisasi.

Salah satu contoh pencurian teknologi Inggris oleh AS dilakukan oleh seorang lulusan Harvard dan pedagang Boston, Francis Cabot Lowell. Ketika Perang Inggris-AS berkecamuk pada 1812, Lowell berlayar dari Inggris menuju Boston, AS. Lowell membawa serta program bajakan alat tenun milik Edmund Cartwright, yang berjasa menjadikan Inggris sebagai kekuatan industri terkemuka.

Saat kapalnya melaju di Samudra Atlantik, sebuah kapal fregat Inggris mencegat. Lowell digeledah dan ditahan berhari-hari. Para penggeledah tidak pernah menemukan bukti spionase industri. Lowell menyembunyikan rancangan bajakan di otaknya yang sudah memotret teknologi Cartwright.

Karena tak menemukan apa pun, Inggris mengizinkan Lowell kembali ke Boston. Setiba di Boston, ia mendesain ulang teknologi Cartwright dan berguna untuk mendorong Revolusi Industri di Amerika Serikat.

Mendukung penjiplakan

Lowell bukan orang Amerika pertama yang mencuri kekayaan intelektual Inggris. Para Founding Fathers AS sangat mendorong pembajakan intelektual. Menteri Keuangan AS periode 1789-1795 Alexander Hamilton di bawah Presiden George Washington sangat yakin manufaktur yang kuat penting bagi kelangsungan hidup.

Namun, AS yang baru berdiri tidak memiliki industri manufaktur tekstil dan tertinggal jauh dari Inggris. Cara tercepat menutup kesenjangan teknologi adalah dengan mencurinya. Dalam ”Report on Manufactures” pada 1791, Hamilton menganjurkan pemberian penghargaan kepada mereka yang membawa ”perbaikan dan rahasia yang bernilai luar biasa” ke AS.

Thomas Attwood Digges tertarik dengan anjuran Hamilton. Digges kemudian menjadi salah satu dari beberapa mata-mata industri AS yang berkeliaran di Inggris pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Para agen spionase industri AS ini tidak hanya mencari teknologi mutakhir, tetapi juga siap menjadi pekerja terampil dan bisa mengoperasikan dan memelihara mesin-mesin itu sepulang mereka ke AS.

Untuk melindungi supremasi ekonominya, Pemerintah Inggris melarang ekspor mesin tekstil dan emigrasi perajin kapas dan linen yang sudah mahir mengoperasikannya. Sebuah pamflet tahun 1796 dicetak di London untuk memperingatkan tentang “agen-agen asing yang berkeliaran seperti burung pemangsa di tepian Sungai Thames”. Inggris paham tentang agen mata-mata AS ini yang sangat bersemangat menjadi perajin, mekanik, petani, dan buruh dengan misi keterampilannya akan dibawa ke AS.

Digges asal AS itu adalah salah satu burung pemangsa intelektual. Ia merekrut para pekerja tekstil Inggris untuk meninggalkan negara itu. Digges berulang kali dipenjarakan karena misinya, tetapi berhasil mendorong industrialisasi di AS.

Hasil rekrutan Digges yang paling berharga adalah William Pearce, seorang mekanik Inggris yang dianggap sebagai ”Archimedes kedua”. Ia dikirim ke Amerika Serikat dengan surat pengantar ke George Washington dan Thomas Jefferson, para pendiri negara AS. Pearce awalnya mengerjakan proyek manufaktur untuk Hamilton. Dia kemudian mendirikan pabrik kapas di Philadelphia. Presiden pertama AS George Washington turut memuji Digges atas ”aktivitas dan semangatnya mengirimkan perajin dan teknologi mesin ke AS”.

Melindungi pembajak

Berdasarkan Undang-Undang Paten tahun 1793, Amerika Serikat memberikan paten kepada pembajak teknologi. ”Dengan demikian, Amerika menjadi tempat perlindungan utama di dunia bagi para pembajak industri,” tulis Pat Choate dalam bukunya Hot Property: The Stealing of Ideas in an Age of Globalization.

Hal itu dilakukan Samuel Slater, pengawas pabrik kapas kelahiran Inggris. Ia menyamar sebagai buruh tani dan berlayar ke Amerika Serikat pada 1789. Ia membawa dalam otaknya detail mesin pemintalan yang dipatenkan Richard Arkwright. Slater kemudian mendirikan pabrik tekstil bertenaga air pertama di Rhode Island, AS, dan menjadi orang kaya.

Presiden Andrew Jackson menjulukinya sebagai ”Bapak Manufaktur Amerika”, tetapi Inggris menyebutkan ”Slater si Pengkhianat”. Lebih dari dua dekade setelah emigrasi Slater, industri tekstil di Amerika Serikat masih tertinggal. Inggris memiliki teknologi mutakhir alat tenun listrik Cartwright, yakni mesin bertenaga air yang memintal benang menjadi kain.

Lowell mengejar ketertinggalan AS dengan mencuri tekonologi Cartwright selama tinggal di Edinburg, Skotlandia. Lowell tidak membuat catatan, tetapi mengajukan beberapa pertanyaan sambil mempelajari desain alat tenun listrik dan menyimpannya dalam otak.

Kembali ke Boston, Lowell melakukan lebih dari sekadar meniru teknologi bajakan Inggris. Dengan bantuan Paul Moody, ia memperbaiki mesin tenun Cartwright pada 1814 dan membangun pabrik tekstil terintegrasi pertama di Waltham, Massachusetts. Dalam satu atap pabrik, kapas berubah menjadi pakaian jadi.

Pelarangan gagal

Kini, Amerika Serikat menuduh China melakukan praktik terlarang, pencurian teknologi. ”Pesan yang kita kirimkan ke China sekarang ini adalah, lakukan apa yang saya katakan, bukan apa yang pernah saya lakukan,” kata Peter Andreas, profesor di Watson Institute for International and Public Affairs di Brown University. Faktanya, AS adalah sarang pencurian kekayaan intelektual di dunia,” kata Andreas dikutip Associated Press, 29 Maret 2019.

Ben-Atar ragu apakah AS bisa secara efektif menjaga teknologinya agar tidak hilang atau dicaplok negara lain. ”Sejarah upaya membatasi transfer teknologi adalah sejarah kegagalan,” ujar Ben-Atar. Pada abad ke-13, negara kota Venesia di Italia pernah berusaha melindungi industri pembuatan kaca dengan mengisolasi pengrajinnya di Pulau Murano. Rahasia Venesia tetap terbongkar.

Kegagalan akan tinggi jika ada niat kuat negara untuk mencaplok teknologi. Douglas Irwin, ekonom dari Dartmouth College, penulis sejarah kebijakan perdagangan AS pada 2017, Clashing Over Commerce, mengatakan bahwa upaya awal AS untuk mendapatkan keunggulan teknologi Inggris masih belum sekomprehensif upaya China saat ini. Bisa dibayangkan hasil apa yang akan diraih China dengan program serupa.

Dalam cetak biru yang disebut ”Made in China 2025”, Beijing telah merancang penciptaan perusahaan-perusahaan China yang unggul di dunia dalam bidang-bidang maju, seperti robotika dan mobil listrik. Untuk mencapai tujuan ini, menurut AS, Beijing telah memberikan subsidi kepada perusahaan-perusahaannya dan membuat pesaing asing tertatih-tatih.

View reactions (729)
Add Comment
2 Comments
  • @russel


    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Ea, iusto, maxime, ullam autem a voluptate rem quos repudiandae.
  • @carlf


    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Ea, iusto, maxime, ullam autem a voluptate rem quos repudiandae.